http://www.fullmusik.net/2013/07/fatin-shidqia-lubis-kekasihmu.html

Jumat, 28 Agustus 2015

cerpen gaje

MY POSITION
Karya : Eka Fitrianingsih

            Nama ku Arka, lebih tepatnya Arka Saputra. Hidup ku biasa-biasa aja. Sampai aku merasakan badai yang bertubi-tubi menimpaku. Dalam kehidupan pasti ada masalah. Dan aku benar-benar merasakan badai itu saat aku menjabat sebagai ketua kelas di kelas XI Akuntansi 5.
          “anak-anak, untuk memilih ketua dan wakil ketua kelas, kita akan menggunakan metode voting agar fair. Lalu, bagi yang ingin menjadi calon ketua kelas maupun wakil ketua kelas dimohon untuk angkat tangan!” ujar Bu Tini. Ya, untuk setahun ini bu Tinilah yang akan menjadi wali kelas ku. Bagaimana orangnya, sifat karakternya, aku belum tau. Bahkan aku baru sekali ini melihatnya. Guru baru? Entahlah. Mungkin aku yang terlalu kuper.
Tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan. Mereka(teman-teman sekelasku) hanya saling pandang dan mengangkat bahu acuh.  “tidak ada yang ingin menjadi kadidat calon ketua dan wakilnya?” tanya bu Tini. Semua anak dikelasku hanya menggelengkan kepala.”mungkin lebih baik jika Noumi menjadi ketua kelas lagi bu!” pendapat Reni. Noumi menggelengkan kepala sebagia isyarat dia tidak mau lagi menjadi ketua kelas. Kelas ku memang terkenal dengan adanya beberapa siswa yang dianggap sebagai troublemaker. Suasana kelas yang tadinya hening menjadi riuh karena Noumi tidak mau lagi menjadi ketua kelas. Mereka dan tentu juga aku sedang menebak-nebak siapa nantinya yang akan menjadi ketua kelas di kelas ku ini. “karena Noumi tidak mau lagi menjdai ketua kelas, maka saya yang akan memilih kadidat calon ketua dan wakil ketua kelas. Dan saya ingin ketua kelas untuk tahun ini laki-laki. Berhubung laki-laki disini hanya ada 3 maka semua yang akan menjadi kadidat ketua kelas. Yang memperoleh suara terbanyak akan menjadi ketua kelas, dan yang mendapatkan suara kedua terbanyak akan menjadi wakilnya. Sekarang kalian tulis pilihan kalian di selembar kertas kemudian dikumpulkan!” ujar Bu Tini panjang lebar. Mendengar apa yang dikatakan bu Tini yang panjang lebar serta kilat tersebut membuat otakku berpikir dengan keras menelaah apa yang beliau katakan. Setelah sadar aku syok dan menatap kedua teman laki-laki ku. Romi dan Dion mlongo mendengar perkataan bu Tini.  Aku ingin tertawa melihat wajah mereka berdua, tapi disatu sisi aku juga jengkel sekali. Bagaimana kalau aku yang terpilih? bisa gila aku nanti.
“Rini, Sekar tolong bantu mengumpulkan kertas itu dan tolong hitung didepan!” perintah bu Tini. “Baik Bu” jawab mereka kompak. Dengan ogah-ogahan mereka berdua berdiri dan mengumpulkan pilihan teman-teman. Setelah dihitung ternyata perolehan poinnya Aku 15, Dion 10 dan Romi 7.”shittt” umpatku dalam hati. Bagimana mungkin aku yang harus menjadi ketua. Sebenarnya tak masalah, tapi mana mungkin aku bisa menjadi ketua kelas yang baik. Raga ku memang disini tapi jiwaku entah kemana. Aku sekolah disini pun karena terpakasa dan sekarang harus mengatur kelasku.  
“baik, jadi sudah jelas. Arka akan menjadi ketua kelas dan  Dion sebagai wakilnya.” Kata bu Tini dengan dihiasi senyum diwajahnya. Semua anak bertepuk tangan , aku dan dion hanya saling pandang malas.
Itu bukan masalah yang sebenarnya tapi awal dari semua masalah. Sehari setelah penetapanku sebagai ketua kelas, Lusi anak yang duduk di depanku kehilangan hpnya. Sebelumnya memang ada ulangan, dan peraturannya saat ulangan hp dikumpulkan. Namun setelah selesai ulangan memang hp milik lusi tidak ada. “hiks...hiks.... bagaimana... ini? Hiks...Aku... bisa dimarahi habis...habisan ...oleh ayahku.” Dia berbicara dengan sambil terus menangis tersedu-sedu. Ini baru pertama kalinya ada anak yang kehilangan hpnya. Aku bingung harus berbuat apa. Baru pertama kali aku menghadapi situasi seperti ini. Sebelumnya aku acuh terhadap apapun yang terjadi di kelas ku ini. Namun sekarang masalahnya aku adalah ketua kelas. Dan aku bertanggung jawab atas kelas ku ini.
“sudah diam, jangan menangis. Apa dengan kamu menangis hp mu akan kembali dengan sendirinya?” kata ku dengan malas.
“gampang sekali kamu bicara! Coba saja kalau kamu yang kehilangan hp mu. Apa yang akan kamu katakan kepada orang tuamu!” jawab Lusi denangan nada meninggi namun masih tetap menangis.
Aku diam membeku mendengar perkataan lusi. Apa yang akan orang tuaku lakukan jika aku ada diposisi lusi? Hatiku seperti tertohok mendengar kata orang tua. Selama ini aku tinggal bersama paman dan bibiku. Sampai sekarang aku belum pernah  bertatap muka dengan orang tuaku. Hanya selembar foto yang membuat aku mengerti siapa orang tuaku.
“kenapa diam? Kau tak bisa menjawab. Hah!” kata Lusi dengan menunjuk dadaku.
“sudahlah, aku malas bertengkar. Lebih baik sekarang kita cari hp mu.” Jawab ku sambil pergi ke depan kelas.
“perhatian.... tolong letakkan semua tas di atas meja dan keluarkan semua isinya! Dan Lusi bantu aku untuk mencari hpmu!” susana kelas yang tadinya ramai sekarang menjadi sunyi saat aku bicara. Aku tertawa dalam hati. Ternyata mudah juga mengendalikan mereka. Lusi hanya mengangguk dan mulai memeriksa tas satu per satu.
Semua tas sudah digledah namun tetap saja hp Lusi tidak ketemu. “ mau nggak mau kita harus bilang ini ke bu Tini.” Usul Dion. Aku menjawab hanya dengan deheman kemudian langsung pergi ke ruang guru.
“Maaf  bu.” Ujar ku sopan. “oh Arka, ada apa nak?” tanya Bu tini. “Begini Bu tadi sehabis ulangan matematika hp lusi hilang.”  Kata ku sambil menunduk, takut-takut kalau dimarahi. “bagaimana bisa? Kamu kan yang mengumpulkan hp? Kenapa bisa punya lusi hilang?memangnya kamu taruh dimana?” tanya bu Tini antusias.
“saya juga tidak tahu Bu. Saat mengumpulkan hp jumlahnya genap. Namun setelah saya bagi hp milik lusi tidak ada.” Kataku sesopan mungkin dengan menahan amarah. Bagaimana tidak marah, kata-kata Bu Tini barusan sama saja menuduhku menghilangkan hpnya lusi.
“ya sudah, ayo kita ke kelasmu. Dan bicarakan maslah ini!” ujar Bu Tini. “baik bu” kata ku sambil berjalan dibelakangnya.
Susana kelas sangat ramai seperti pasar. Anak-anak mengerubungi Lusi yang masih saja menangis. “lusi ayo ikut ibu ke ruang BK” kata Bu Tini. Lusi beranjak dari tempat duduknya dan pergi bersama bu Tini.
Kasus itu sudah selesai, entah hpnya ketemu atau tidak. Namun karena aku yang mengumpulkan hp sebelum ulangan aku juga kena imbasnya. “sialll...” ucapku dalam hati. Bagaimana tidak. Aku diceramahi beberapa guru di ruang Bk kemarin. Mereka semua menyudutkanku seolah-olah aku ini penjahat.
Esok harinya ternyata ada ulangan sejarah. Dan masalahnya aku belum belajar sama sekali. Sebenarnya aku memang tidak pernah belajar. Aku kurang suka sekolah. Seperti biasa aku membuat contekan, sedikit. Karena waktunya mepet.
Mungkin hari ini hari tersial untuk ku. “Pak, Arka membawa contekan!” adunya kepada guru sejarah. “ah... shiiiittt!” aku mengumpat dalam hati. Padahal sebelumnya dia tidak pernah memasalahkan jika aku membawa contekan. “Arka ayo ikut saya ke ruang guru!” perintah pak Bejo dengan nada ekstrim. Aku berdiri dan menatap Gina. “awas kau...” ucapku tanpa bersuara.
“kamu itu ketua kelas. Kamu menjadi panutan bagi teman-temanmu. Kalau kamu malah mencontek bagaimana dengan teman-temanmu! Kamu itu harus memberi contoh yang baik bagi teman-temanmu. Jangan malah mencontek. Saya malah jadi curiga soal hp kemarin.” Kata Bu Tini. “benar-benar ini guru....” ucapku dalam hati seraya mengatur emosiku sendiri. Ingin rasanya aku melemparkan kursi padanya.  Setelah pergi ke ruang guru, Pak Bejo melaporkan ku kepada Bu Tini.dan sekarang Bu Tini menceramahiku dengan berbagai macam kata yang aku bahkan tak mengerti. Biarlah, aku lelah dengan semua ini.
Di kelas aku tak melihat wajah Gina. Mungkin dia bersembunyi dariku. Semua nak berbisik-bisik membicarakan ku. Aku diam saja dan melipat tanganku di atas meja serta menyembunyikan kepalaku disana. Baru sebentar aku menutup mata, ada yang menepuk pelan punggungku. Aku agak terkejut mengetahui ternyata Gina lah yang berdiri disampingku. “maaf...” ucapnya lirih. Aku hanya menatapnya. Tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Memang aku tidak pernah ada masalah dengannya. Bertegur sapa pun tak pernah. Tapi kejadian tadi benar-benar membuatku kesal. Karena itu saat dia mengucapkan maaf aku hanya menoleh sebentar dan kemudian memalingkan wajah keluar jendela.
“maaf...” ucapnya lagi. Aku tetap tak bergeming. “ aku melakukan itu karena kamu ketua kelas. Dan aku nggak mau punya ketua kelas yang malah ngasih contoh buruk kaya gitu!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku menoleh kepadanya. Ada ketulusan yang terpancar dimatanya. Aku hanya mengangguk kecil kemudian pergi. “terima kasih” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya berlalu dan tersenyum kecil.
Walau aku sudah memaafkannya tapi aku juga masih jengkel terhadap gina. Bagaimana tidak jengkel! “tulis pada dua lembar kertas folio bahwa kamu tidak akan mencontek lagi dan kumpulkan besok pagi di meja saya!” perintah bu Tini. Gara-gara itu pagi ini aku merasa ngantuk sekali. Aku lembur semalaman untuk menulis perintah Bu Tini dan baru tidur jam 2 pagi.
“ctoookk....” (suara spidol menghantam kepala). “Aduuuuuuuuhhhhh.....” kata ku seraya mengusap-usap kepala. “siapa yang melempar ini!” (mengacungkan spidol) dengan suara yg cukup nyaring. Semua anak diam, dan aku baru sadar ternyata guru MTK yang terkenal killer ada di belakangku. “sial...sial...sial...” umpatku dalam hati.“sekarang keluar dari kelas ku!” ucap Pak Dono. Aku berjalan keluar masih dengan mengusap-usap kepala ku yang terkena lemparan spidol. Benar-benar sakit.
Aku melihat Dion dan Riko menahan tawa saat aku berjalan didepannya. aku hanya melotot melihat mereka. “peace...” ucap mereka tanpa suara dengan mengacungkan jari tunjuk dan jari tengah.
Aku berdiri di depan pintu selama 65 menit. Setelah guru itu keluar, aku masuk kelas dan melanjutkan tidurku yang tertunda.

Sebulan telah berlalu, aku menjadi ketua kelas. Sekarang aku lebih mengenal teman-temanku. Tidak begitu buruk menjadi ketua kelas. Dan sekarang aku nyaman menjalani tugas ku menjadi ketua kelas. Hubunganku dengan Gina pun menjadi lebih baik. Dia selalu membantuku  belajar jika aku kesulitan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar