MY POSITION
Karya : Eka Fitrianingsih
Nama
ku Arka, lebih tepatnya Arka Saputra. Hidup ku biasa-biasa aja. Sampai aku
merasakan badai yang bertubi-tubi menimpaku. Dalam kehidupan pasti ada masalah.
Dan aku benar-benar merasakan badai itu saat aku menjabat sebagai ketua kelas
di kelas XI Akuntansi 5.
“anak-anak, untuk memilih ketua dan
wakil ketua kelas, kita akan menggunakan metode voting agar fair. Lalu, bagi yang ingin menjadi
calon ketua kelas maupun wakil ketua kelas dimohon untuk angkat tangan!” ujar
Bu Tini. Ya, untuk setahun ini bu Tinilah yang akan menjadi wali kelas ku.
Bagaimana orangnya, sifat karakternya, aku belum tau. Bahkan aku baru sekali
ini melihatnya. Guru baru? Entahlah. Mungkin aku yang terlalu kuper.
Tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan.
Mereka(teman-teman sekelasku) hanya saling pandang dan mengangkat bahu
acuh. “tidak ada yang ingin menjadi
kadidat calon ketua dan wakilnya?” tanya bu Tini. Semua anak dikelasku hanya
menggelengkan kepala.”mungkin lebih baik jika Noumi menjadi ketua kelas lagi
bu!” pendapat Reni. Noumi menggelengkan kepala sebagia isyarat dia tidak mau
lagi menjadi ketua kelas. Kelas ku memang terkenal dengan adanya beberapa siswa
yang dianggap sebagai troublemaker. Suasana
kelas yang tadinya hening menjadi riuh karena Noumi tidak mau lagi menjadi
ketua kelas. Mereka dan tentu juga aku sedang menebak-nebak siapa nantinya yang
akan menjadi ketua kelas di kelas ku ini. “karena Noumi tidak mau lagi menjdai
ketua kelas, maka saya yang akan memilih kadidat calon ketua dan wakil ketua
kelas. Dan saya ingin ketua kelas untuk tahun ini laki-laki. Berhubung
laki-laki disini hanya ada 3 maka semua yang akan menjadi kadidat ketua kelas.
Yang memperoleh suara terbanyak akan menjadi ketua kelas, dan yang mendapatkan
suara kedua terbanyak akan menjadi wakilnya. Sekarang kalian tulis pilihan
kalian di selembar kertas kemudian dikumpulkan!” ujar Bu Tini panjang lebar.
Mendengar apa yang dikatakan bu Tini yang panjang lebar serta kilat tersebut
membuat otakku berpikir dengan keras menelaah apa yang beliau katakan. Setelah
sadar aku syok dan menatap kedua teman laki-laki ku. Romi dan Dion mlongo
mendengar perkataan bu Tini. Aku ingin
tertawa melihat wajah mereka berdua, tapi disatu sisi aku juga jengkel sekali.
Bagaimana kalau aku yang terpilih? bisa gila aku nanti.
“Rini, Sekar tolong bantu mengumpulkan kertas itu
dan tolong hitung didepan!” perintah bu Tini. “Baik Bu” jawab mereka kompak.
Dengan ogah-ogahan mereka berdua berdiri dan mengumpulkan pilihan teman-teman.
Setelah dihitung ternyata perolehan poinnya Aku 15, Dion 10 dan Romi 7.”shittt”
umpatku dalam hati. Bagimana mungkin aku yang harus menjadi ketua. Sebenarnya
tak masalah, tapi mana mungkin aku bisa menjadi ketua kelas yang baik. Raga ku
memang disini tapi jiwaku entah kemana. Aku sekolah disini pun karena terpakasa
dan sekarang harus mengatur kelasku.
“baik, jadi sudah jelas. Arka akan menjadi ketua
kelas dan Dion sebagai wakilnya.” Kata
bu Tini dengan dihiasi senyum diwajahnya. Semua anak bertepuk tangan , aku dan
dion hanya saling pandang malas.
Itu bukan masalah yang sebenarnya tapi awal dari
semua masalah. Sehari setelah penetapanku sebagai ketua kelas, Lusi anak yang
duduk di depanku kehilangan hpnya. Sebelumnya memang ada ulangan, dan
peraturannya saat ulangan hp dikumpulkan. Namun setelah selesai ulangan memang
hp milik lusi tidak ada. “hiks...hiks.... bagaimana... ini? Hiks...Aku... bisa
dimarahi habis...habisan ...oleh ayahku.” Dia berbicara dengan sambil terus menangis
tersedu-sedu. Ini baru pertama kalinya ada anak yang kehilangan hpnya. Aku
bingung harus berbuat apa. Baru pertama kali aku menghadapi situasi seperti
ini. Sebelumnya aku acuh terhadap apapun yang terjadi di kelas ku ini. Namun
sekarang masalahnya aku adalah ketua kelas. Dan aku bertanggung jawab atas
kelas ku ini.
“sudah diam, jangan menangis. Apa dengan kamu
menangis hp mu akan kembali dengan sendirinya?” kata ku dengan malas.
“gampang sekali kamu bicara! Coba saja kalau kamu
yang kehilangan hp mu. Apa yang akan kamu katakan kepada orang tuamu!” jawab
Lusi denangan nada meninggi namun masih tetap menangis.
Aku diam membeku mendengar perkataan lusi. Apa yang
akan orang tuaku lakukan jika aku ada diposisi lusi? Hatiku seperti tertohok
mendengar kata orang tua. Selama ini aku tinggal bersama paman dan bibiku.
Sampai sekarang aku belum pernah
bertatap muka dengan orang tuaku. Hanya selembar foto yang membuat aku
mengerti siapa orang tuaku.
“kenapa diam? Kau tak bisa menjawab. Hah!” kata Lusi
dengan menunjuk dadaku.
“sudahlah, aku malas bertengkar. Lebih baik sekarang
kita cari hp mu.” Jawab ku sambil pergi ke depan kelas.
“perhatian.... tolong letakkan semua tas di atas
meja dan keluarkan semua isinya! Dan Lusi bantu aku untuk mencari hpmu!” susana
kelas yang tadinya ramai sekarang menjadi sunyi saat aku bicara. Aku tertawa
dalam hati. Ternyata mudah juga mengendalikan mereka. Lusi hanya mengangguk dan
mulai memeriksa tas satu per satu.
Semua tas sudah digledah namun tetap saja hp Lusi
tidak ketemu. “ mau nggak mau kita harus bilang ini ke bu Tini.” Usul Dion. Aku
menjawab hanya dengan deheman kemudian langsung pergi ke ruang guru.
“Maaf bu.”
Ujar ku sopan. “oh Arka, ada apa nak?” tanya Bu tini. “Begini Bu tadi sehabis
ulangan matematika hp lusi hilang.” Kata
ku sambil menunduk, takut-takut kalau dimarahi. “bagaimana bisa? Kamu kan yang
mengumpulkan hp? Kenapa bisa punya lusi hilang?memangnya kamu taruh dimana?”
tanya bu Tini antusias.
“saya juga tidak tahu Bu. Saat mengumpulkan hp
jumlahnya genap. Namun setelah saya bagi hp milik lusi tidak ada.” Kataku
sesopan mungkin dengan menahan amarah. Bagaimana tidak marah, kata-kata Bu Tini
barusan sama saja menuduhku menghilangkan hpnya lusi.
“ya sudah, ayo kita ke kelasmu. Dan bicarakan maslah
ini!” ujar Bu Tini. “baik bu” kata ku sambil berjalan dibelakangnya.
Susana kelas sangat ramai seperti pasar. Anak-anak
mengerubungi Lusi yang masih saja menangis. “lusi ayo ikut ibu ke ruang BK”
kata Bu Tini. Lusi beranjak dari tempat duduknya dan pergi bersama bu Tini.
Kasus itu sudah selesai, entah hpnya ketemu atau
tidak. Namun karena aku yang mengumpulkan hp sebelum ulangan aku juga kena
imbasnya. “sialll...” ucapku dalam hati. Bagaimana tidak. Aku diceramahi
beberapa guru di ruang Bk kemarin. Mereka semua menyudutkanku seolah-olah aku
ini penjahat.
Esok harinya ternyata ada ulangan sejarah. Dan
masalahnya aku belum belajar sama sekali. Sebenarnya aku memang tidak pernah
belajar. Aku kurang suka sekolah. Seperti biasa aku membuat contekan, sedikit.
Karena waktunya mepet.
Mungkin hari ini hari tersial untuk ku. “Pak, Arka
membawa contekan!” adunya kepada guru sejarah. “ah... shiiiittt!” aku mengumpat
dalam hati. Padahal sebelumnya dia tidak pernah memasalahkan jika aku membawa
contekan. “Arka ayo ikut saya ke ruang guru!” perintah pak Bejo dengan nada
ekstrim. Aku berdiri dan menatap Gina. “awas kau...” ucapku tanpa bersuara.
“kamu itu ketua kelas. Kamu menjadi panutan bagi
teman-temanmu. Kalau kamu malah mencontek bagaimana dengan teman-temanmu! Kamu
itu harus memberi contoh yang baik bagi teman-temanmu. Jangan malah mencontek.
Saya malah jadi curiga soal hp kemarin.” Kata Bu Tini. “benar-benar ini
guru....” ucapku dalam hati seraya mengatur emosiku sendiri. Ingin rasanya aku
melemparkan kursi padanya. Setelah pergi
ke ruang guru, Pak Bejo melaporkan ku kepada Bu Tini.dan sekarang Bu Tini
menceramahiku dengan berbagai macam kata yang aku bahkan tak mengerti. Biarlah,
aku lelah dengan semua ini.
Di kelas aku tak melihat wajah Gina. Mungkin dia
bersembunyi dariku. Semua nak berbisik-bisik membicarakan ku. Aku diam saja dan
melipat tanganku di atas meja serta menyembunyikan kepalaku disana. Baru
sebentar aku menutup mata, ada yang menepuk pelan punggungku. Aku agak terkejut
mengetahui ternyata Gina lah yang berdiri disampingku. “maaf...” ucapnya lirih.
Aku hanya menatapnya. Tak percaya dengan apa yang dia ucapkan. Memang aku tidak
pernah ada masalah dengannya. Bertegur sapa pun tak pernah. Tapi kejadian tadi
benar-benar membuatku kesal. Karena itu saat dia mengucapkan maaf aku hanya
menoleh sebentar dan kemudian memalingkan wajah keluar jendela.
“maaf...” ucapnya lagi. Aku tetap tak bergeming. “
aku melakukan itu karena kamu ketua kelas. Dan aku nggak mau punya ketua kelas
yang malah ngasih contoh buruk kaya gitu!” ucapnya dengan nada tinggi. Aku
menoleh kepadanya. Ada ketulusan yang terpancar dimatanya. Aku hanya mengangguk
kecil kemudian pergi. “terima kasih” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya
berlalu dan tersenyum kecil.
Walau aku sudah memaafkannya tapi aku juga masih
jengkel terhadap gina. Bagaimana tidak jengkel! “tulis pada dua lembar kertas
folio bahwa kamu tidak akan mencontek lagi dan kumpulkan besok pagi di meja
saya!” perintah bu Tini. Gara-gara itu pagi ini aku merasa ngantuk sekali. Aku
lembur semalaman untuk menulis perintah Bu Tini dan baru tidur jam 2 pagi.
“ctoookk....” (suara spidol menghantam kepala).
“Aduuuuuuuuhhhhh.....” kata ku seraya mengusap-usap kepala. “siapa yang
melempar ini!” (mengacungkan spidol) dengan suara yg cukup nyaring. Semua anak
diam, dan aku baru sadar ternyata guru MTK yang terkenal killer ada di
belakangku. “sial...sial...sial...” umpatku dalam hati.“sekarang keluar dari
kelas ku!” ucap Pak Dono. Aku berjalan keluar masih dengan mengusap-usap kepala
ku yang terkena lemparan spidol. Benar-benar sakit.
Aku melihat Dion dan Riko menahan tawa saat aku
berjalan didepannya. aku hanya melotot melihat mereka. “peace...” ucap mereka
tanpa suara dengan mengacungkan jari tunjuk dan jari tengah.
Aku berdiri di depan pintu selama 65 menit. Setelah
guru itu keluar, aku masuk kelas dan melanjutkan tidurku yang tertunda.
Sebulan telah berlalu, aku menjadi ketua kelas.
Sekarang aku lebih mengenal teman-temanku. Tidak begitu buruk menjadi ketua
kelas. Dan sekarang aku nyaman menjalani tugas ku menjadi ketua kelas.
Hubunganku dengan Gina pun menjadi lebih baik. Dia selalu membantuku belajar jika aku kesulitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar